Ketika agama menertawakan sains
Posted on 28 July 2025 by Mohammad Ali Hasan Amiruddin — 2 min
Agama yang dimaksud di sini adalah agama yang logis, yakni: Islam.
Apakah agama menertawakan sains? Bisa iya, bisa tidak — tergantung sudut pandang dan cara membaca relasi antara wahyu dan observasi. Semua jawaban punya argumen yang valid. Karena realitas memang mengandung kedua jawaban tersebut, meski dalam bentuk argumen yang berbeda.
Agama dengan keluasan maknanya bisa diibaratkan seperti alam semesta itu sendiri — tak terbatas, sarat makna, dan melampaui kemampuan observasi biasa. Sedangkan sains, dengan segala keterbatasannya, lebih mirip laboratorium kecil di planet kecil bernama bumi. Jadi ketika sains mengklaim bahwa realitas.harus ilmiah maka sebenarnya, ia harus memverifikasi setiap bintang yang ada, atau memasukan beberapa galaksi ke dalam laboratorium mereka untuk diteliti lebih lanjut. Ini tentu akan sangat merepotkan, disamping sangat mustahil.
Sains selalu berkata bahwa mereka telah membuat inovasi. Mereka tidak sadar bahwa hipotesis mereka sudah terlebih dahulu dikatakan oleh Qur'an 14 abad sebelum aku menulis artikel ini. Ini artinya kemajuan sains tertinggal jauh selama 14 abad.
Sains tampaknya hanya mengafirmasi ulang apa yang sudah disebut oleh Qur’an berabad-abad lalu — seolah baru saja sampai pada kebenaran yang telah lama diungkapkan oleh wahyu."
Aku menggunakan ChatGPT untuk bertanya, "hipotesis apa saja yang dikatakan Qur'an sehubungan dengan penelitian sains?"
Berikut jawabannya yang sudah aku rangkum:
Atmosfer berperan melindungi bumi dari benda luar dan radiasi. "Dan Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara..." (QS Al-Anbiya: 32)
Hujan terjadi dari interaksi awan-awan dan proses kondensasi. "...maka Kami tumpuk awan-awan itu, lalu Kami jadikan hujan keluar dari celah-celahnya..." (QS An-Nur: 43)
Bumi (termasuk gunung-gunung) sebenarnya bergerak, walau tampak diam. "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan seperti jalannya awan..." (QS An-Naml: 88)
Gunung-gunung berperan dalam stabilitas kerak bumi "Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?" (QS An-Naba: 6-7)
Produksi susu terjadi melalui proses biologis dalam sistem pencernaan dan peredaran darah. "...Kami memberimu minum dari apa yang berada dalam perutnya (hewan ternak), dari antara kotoran dan darah, menjadi susu yang bersih, yang mudah ditelan bagi orang yang meminumnya." (QS An-Nahl: 66)
Kehidupan berasal dari air "...Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..." (QS Al-Anbiya: 30)
Hipotesis-hipotesis itu adalah bukti bahwa Qur'an mengandung kemajuan sebelum istilah intelektual didefinisikan.
Maka wajar jika agama tampak menertawakan sains — bukan karena sains salah, tapi karena ia sering terlambat sampai pada kebenaran yang lebih dahulu diberitakan oleh wahyu.
Jadi, apakah benar bahwa agama memang menertawakan sains? Ya, secara implisit. Tidak, secara eksplisit.